banner 728x250

Budiman Tanah Djaya: Perubahan Persepsi terhadap Tionghoa Perkuat Persatuan dan Kemajuan Indonesia

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Gatraindonesia.com Jakarta – Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) bersama Forum Sinologi Indonesia (FSI).
menyenggarakan Sinoforum dengan mengambil tema :
“Ketionggoan Dalam Bingkai Budaya Indonesia”, yang diadakan di Hotel Horison Ultima Jakarta, Sabtu, (28/02/2026).

Tentang bagaimana orang orang Tionghoa beradaptasi dan berakulturasi dengan budaya dan masyarakat Nusantara lainnya dan bagaimana budaya Tionghoa Indonesia bertahan atau berubah ditengah datangnya arus globalisasi.

Adapun
Pembicara
Dr. Thung Ju Lan ahli peneliti utama BRIN
Budiman Tanah Djaya Sekertaris Aspertina
Christine Susanna Thjin
Direktur Komunikasi dan Kajian Strategis Gentala Institute
Moderator
Muhammad Farid S.S. M.PA
Pembicara Pembuka
Septeven Huang S.H.

Budiman Tanah Djaya menegaskan pentingnya menempatkan isu kebangsaan dan keberagaman dalam konteks kemanusiaan serta sejarah panjang kontribusi masyarakat Tionghoa bagi Indonesia. Dalam wawancaranya dengan sejumlah media, ia menyampaikan bahwa posisi warga Tionghoa di Indonesia telah jelas sejak berdirinya republik.

Menurut Budiman, sejak awal kemerdekaan, masyarakat Tionghoa—terutama peranakan yang lahir di Indonesia—telah menginginkan dan menegaskan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. “Sejak republik ini berdiri, posisi Tionghoa sudah jelas di Indonesia. Setiap peranakan Tionghoa yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dinamika kebijakan integrasi yang pernah dijalankan di masa lalu. Budiman menjelaskan bahwa proses asimilasi yang dikenal luas pada masa Orde Baru pada dasarnya telah didahului oleh proses akulturasi yang berlangsung secara alami di tengah masyarakat. Menurutnya, pembauran budaya tersebut tidak semata-mata soal asimilasi, melainkan interaksi timbal balik yang telah lama membentuk identitas kebangsaan Indonesia.

Budiman menekankan bahwa perubahan persepsi masyarakat terhadap warga Tionghoa merupakan perkembangan positif yang patut dijaga bersama. Ia berharap, dengan semakin terbukanya ruang dialog dan kerja sama lintas kelompok, tidak akan ada lagi peristiwa-peristiwa menyakitkan yang menimpa masyarakat Tionghoa di Indonesia.

“Kita berharap tidak ada lagi kejadian yang menyakitkan bagi orang-orang Tionghoa di Indonesia. Dengan kerja sama dan saling pengertian, Indonesia akan menjadi semakin maju,” tegasnya.

Lebih lanjut, Budiman mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat semangat persatuan dalam keberagaman. Ia menilai bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat dicapai apabila seluruh warga negara, tanpa memandang latar belakang etnis maupun budaya, mendapatkan ruang yang setara untuk berkontribusi.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa fondasi kebangsaan Indonesia dibangun di atas prinsip inklusivitas dan kemanusiaan. Dengan terus menjaga persatuan serta menghormati keberagaman, Indonesia diharapkan mampu melangkah maju sebagai bangsa yang kuat dan berkeadilan.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *