banner 728x250

Abad Kedua NU, Aktivis Muda Dorong Warisan Moral Gus Dur

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

gatraindonesia.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031.

 

Hasil tersebut diharapkan tidak berhenti pada pergantian kepemimpinan organisasi. Aktivis Muda NU, Nata Sutisna, berharap kepemimpinan baru dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali keberanian moral yang pernah ditunjukkan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

 

Nata, yang merupakan kader muda NU dan mahasiswa MA in International Peacebuilding di Hartford International University for Religion and Peace, Amerika Serikat, menilai warisan Gus Dur tidak cukup hanya dikenang sebagai gagasan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik khidmah NU.

 

Nata pernah menjabat sebagai Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Tunisia periode 2020–2024 dan menjadi kontributor NU Online.

 

Menurut dia, nilai kemanusiaan, keadilan, kesederhanaan, dan persaudaraan harus kembali menjadi kompas moral NU dalam memasuki abad kedua.

 

“Gus Dur mengajarkan bahwa membela manusia berarti membela martabatnya, tanpa melihat agama, identitas, maupun latar belakangnya. NU harus terus berdiri bersama mereka yang lemah, tertindas, dan diperlakukan tidak adil,” ujar Nata.

 

Ia menilai keberpihakan terhadap kemanusiaan harus dimulai dari lingkungan internal NU. Masjid dan mushala, kata dia, semestinya menjadi ruang yang menghadirkan keteduhan dan kemanusiaan. Sementara pesantren harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan membentuk karakter.

 

“Jangan sampai lembaga yang seharusnya memuliakan manusia justru menjadi tempat terjadinya kekerasan dan perundungan. Pesantren harus menjadi kawah candradimuka yang melahirkan pemimpin, ulama, hingga cendekiawan masa depan,” tegasnya.

 

Nata juga mengingatkan pentingnya kesederhanaan dan keteladanan para pemimpin NU. Di tengah kondisi masyarakat yang masih menghadapi berbagai persoalan ekonomi, ia berharap para pengurus NU tidak larut dalam kemewahan dan gaya hidup berlebihan.

 

“Jabatan adalah amanah. Wajah NU seharusnya tetap menjadi wajah ulama yang sederhana, dekat dengan masyarakat, berakhlak, dan memiliki integritas,” katanya.

 

Selain kemanusiaan dan kesederhanaan, Nata menekankan pentingnya persaudaraan. Menurutnya, NU harus tetap menjadi kekuatan moral yang berani membela hak setiap warga negara, termasuk mereka yang berbeda agama dan keyakinan.

 

“Suara Gus Dur yang kita rindukan adalah suara yang berani mengatakan bahwa tidak seorang pun berhak merampas hak orang lain untuk beribadah dan hidup dengan martabat yang sama. Persaudaraan harus diwujudkan dengan keberanian melawan diskriminasi dan membangun dialog,” ujarnya.

 

Ia berharap NU ke depan tidak hanya semakin besar secara organisasi, tetapi juga semakin besar manfaatnya bagi masyarakat serta semakin kuat kontribusinya dalam membangun perdamaian dunia.

 

“Abad kedua NU seharusnya menjadi momentum untuk kembali kepada manusia. Kita tidak perlu mengulang Gus Dur, tetapi kita perlu meneruskan keberanian moralnya: membela kemanusiaan, menegakkan keadilan, hidup dalam kesederhanaan, dan merawat persaudaraan,” tutup Nata.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *