banner 728x250
Berita  

1.700 Dapur Diklaim Rampung 100 Persen, Investor Tuntut Transparansi dan Kepastian Operasional

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

gatraindonesia.com – Sekitar 400 anggota APGI 3T & Terpencil dari berbagai wilayah Indonesia menyatakan kesiapan untuk hadir dalam Apel Siaga APGI 3T & Terpencil pada 26 Agustus 2026.

 

Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gedung Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kebon Sirih, Jakarta.

 

Para peserta berasal dari berbagai daerah dan merupakan bagian dari pengelola serta investor SPPG 3T & Terpencil yang mengaku telah menerima SK 1 maupun SK 2 dari BGN, serta telah menyelesaikan pembangunan dapur hingga 100 persen. Namun, mereka menyatakan masih menghadapi ketidakpastian mengenai operasional selama berbulan-bulan.

 

Menurut data internal APGI 3T & Terpencil, terdapat sekitar 1.700 dapur yang telah dibangun hingga 100 persen, dengan nilai investasi yang disebut berkisar Rp1,5–3 miliar per dapur.

 

Investasi tersebut disebut berasal dari berbagai sumber, mulai dari dana pribadi, pinjaman keluarga dan teman, pembiayaan perbankan, hingga pendanaan dari pihak lain.

 

APGI 3T & TERPENCIL TUNTUT TRANSPARANSI

 

Sekretaris Jenderal APGI 3T & Terpencil, Gardian Muhammad, mengatakan bahwa transparansi menjadi hal yang sangat penting dalam proses penentuan dan pengoperasian dapur 3T & Terpencil.

 

“Kami khawatir praktik ketidakjujuran kembali terjadi apabila prosesnya tidak transparan. Kami mengetahui adanya dugaan pejabat maupun pimpinan lembaga pemerintahan yang memiliki atau mengendalikan dapur, baik atas nama pribadi maupun melalui pihak lain. Kalau kemudian dapur-dapur yang memiliki hubungan dengan pejabat didahulukan, kami siap bersuara dan membuka data yang kami miliki,” ujar Gardian Muhammad.

 

Gardian menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan seruan agar proses pengoperasian dilakukan secara transparan, objektif, dan dapat diawasi publik, bukan tuduhan terhadap individu tertentu.

 

“Kami meminta sistem yang transparan. Siapa yang memenuhi persyaratan, siapa yang sudah mendapatkan SK, siapa yang sudah selesai membangun, dan siapa yang siap beroperasi harus dapat dijelaskan secara terbuka,” lanjutnya.

 

INVESTOR MENGAKU MULAI TERTEKAN

 

Sementara itu, Riyanto, investor 3T & Terpencil dari Kalimantan, mengungkapkan tekanan yang mulai dirasakan sejumlah investor akibat ketidakpastian operasional.

 

Menurutnya, investasi yang dikeluarkan bukan merupakan dana kecil. Sebagian investor menggunakan uang pribadi, meminjam dari keluarga atau teman, menggunakan fasilitas perbankan, maupun memperoleh pendanaan dari pihak lain.

 

“Ada yang rumahnya terancam disita. Ada yang menghadapi persoalan rumah tangga, bahkan ada yang sampai bercerai. Ada pula yang mengalami konflik keluarga besar. Semua ini terjadi karena investasi sudah dikeluarkan, tetapi kepastian operasional belum jelas,” ungkap Riyanto.

 

Ia juga menyebut terdapat investor yang telah menghadapi laporan atau persoalan hukum dari pihak yang merasa dirugikan, termasuk persoalan yang dikaitkan dengan investasi bodong, penipuan, dan kejahatan keuangan lainnya.

 

“Kami tidak ingin persoalan ini semakin besar. Kami meminta BGN memberikan solusi sebelum masalah di lapangan berkembang menjadi persoalan hukum dan sosial yang lebih luas,” katanya.

 

BUKAN SEKADAR KONTEN MEDIA SOSIAL

 

APGI 3T & Terpencil menegaskan bahwa para anggota tidak menuntut sesuatu yang berada di luar tujuan program. Mereka meminta kepastian, transparansi, dan eksekusi nyata.

 

Ketua Umum APGI 3T & Terpencil, Herwil Junaidi Harefa, SE., MM., menegaskan:

 

“Kami hampir satu tahun menanggung kerugian. Jangan BGN menanggapi kami dengan konten media sosial. Kami membutuhkan solusi dan eksekusi nyata.”

 

APGI 3T & Terpencil juga meminta agar komitmen Kepala BGN yang baru untuk memulai operasional SPPG 3T & Terpencil benar-benar diwujudkan, sejalan dengan amanah Presiden Prabowo kepada Menko Pangan Zulkifli Hasan terkait keberlanjutan program pemerintah hingga wilayah 3T.

 

1.700 DAPUR, RIBUAN INVESTOR, DAN SATU PERTANYAAN

 

Bagi APGI 3T & Terpencil, persoalan ini kini tidak lagi sebatas pembangunan fisik dapur.

 

Di belakang setiap bangunan terdapat uang, utang, tenaga kerja, keluarga, pemasok, dan harapan investor yang telah dipertaruhkan untuk mendukung program negara.

 

Karena itu, Apel Siaga 26 Agustus akan menjadi momentum bagi pimpinan wilayah APGI 3T & Terpencil dari seluruh Indonesia untuk menyampaikan aspirasi secara tertib, damai, dan bermartabat.

 

APGI 3T & Terpencil meminta pemerintah menjawab secara terbuka:

 

Kapan dapur 3T & Terpencil yang telah memenuhi persyaratan akan mulai beroperasi?

 

Bagaimana mekanisme penentuan dapur yang akan dioperasikan?

 

Bagaimana memastikan proses tersebut bebas dari konflik kepentingan?

 

Bagaimana nasib investasi yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan tanpa kepastian?

 

APGI 3T & Terpencil menyatakan siap menyampaikan data dan menempuh jalur hukum serta mekanisme resmi yang tersedia apabila tidak terdapat penyelesaian yang transparan dan konkret.

 

“Kami bukan musuh pemerintah. Kami adalah bagian dari masyarakat yang ikut membangun program ini. Tetapi kalau ada ketidakadilan, kami punya kewajiban untuk bersuara. Kalau ada data, kami akan sampaikan datanya. Kalau ada persoalan, kami minta diselesaikan secara terbuka,” tegas APGI 3T & Terpencil.

 

 

26 AGUSTUS 2026

 

APGI 3T & TERPENCIL SIAGA

 

GEDUNG KANTOR BADAN GIZI NASIONAL (BGN)

KEBON SIRIH, JAKARTA

 

400 anggota.

1.700 dapur yang menurut data internal APGI telah selesai dibangun.

Ribuan kepentingan masyarakat dan investor.

 

SATU TUNTUTAN:

 

TRANSPARANSI KEPASTIAN. EKSEKUSI NYATA.

 

APGI 3T & TERPENCIL

Dari daerah 3T, menyuarakan kepastian untuk program negara.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *