gatraindonesia.com – Teknologi awalnya diciptakan sebagai alat untuk membantu manusia mengatasi keterbatasannya. Namun, teknologi digital telah berkembang melampaui fungsi instrumental tersebut. Ia kini menjadi lingkungan tempat manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, membangun relasi, dan memahami dunia.
Perubahan ini melahirkan persoalan mendasar: ketika teknologi tidak lagi sekadar digunakan manusia, tetapi ikut menentukan apa yang dilihat, diketahui, dinilai, dan dipilih, apakah manusia masih sepenuhnya menjadi subjek atas kehidupannya sendiri?
Pertanyaan tersebut membawa kita dari persoalan teknologi menuju persoalan keberadaan manusia.
Martin Heidegger melalui konsep Geworfenheit menjelaskan bahwa manusia selalu hadir dalam dunia yang telah memiliki struktur, bahasa, norma, dan kebiasaan tertentu. Di era digital, kondisi itu memperoleh bentuk baru. Manusia kini hidup dalam ruang yang juga dibentuk oleh algoritma, platform, data, dan sistem komputasional.
Dengan demikian, ruang digital bukan ruang yang netral. Ia memiliki aturan dan mekanisme yang menentukan apa yang terlihat, apa yang dianggap relevan, dan apa yang tersisih dari perhatian.
Dari Alat Menjadi Struktur
Teknologi digital bekerja melalui pengukuran, klasifikasi, prediksi, dan optimasi. Banyak aspek kehidupan yang sebelumnya bersifat kualitatif kini diterjemahkan menjadi angka: popularitas menjadi jumlah pengikut, perhatian menjadi engagement, kinerja menjadi skor, dan preferensi menjadi data.
Angka memang berguna. Masalah muncul ketika sesuatu yang dapat diukur dianggap selalu lebih penting daripada sesuatu yang sulit diukur.
Kebijaksanaan, integritas, kasih sayang, pengalaman batin, dan makna hidup tidak mudah diterjemahkan menjadi angka. Jika masyarakat semakin menjadikan keterukuran sebagai ukuran utama nilai, sesuatu yang tidak terukur berisiko dianggap tidak penting.
Pada titik ini, teknologi tidak lagi sekadar membantu manusia mengukur realitas. Ia mulai memengaruhi cara manusia menentukan apa yang dianggap bernilai.
Kecerdasan Buatan dan Krisis Pengetahuan
Perkembangan machine learning dan artificial intelligence memperkuat perubahan tersebut. Sistem digital tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga memilih, menyaring, mengurutkan, memprediksi, dan merekomendasikan informasi kepada manusia.
Akibatnya, manusia semakin sering mengenal realitas melalui hasil seleksi sistem.
Apa yang muncul di layar bukanlah keseluruhan realitas, melainkan realitas yang telah melewati proses komputasional.
Karena itu, perlu dibedakan antara realitas dan visibilitas.
Sesuatu yang sering terlihat belum tentu benar. Sebaliknya, sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada.
Namun, dalam ekosistem digital, visibilitas memiliki kekuatan besar. Informasi yang terus muncul menjadi familiar. Sesuatu yang familiar lebih mudah diterima. Di sinilah krisis epistemik muncul: manusia dapat merasa mengetahui sesuatu hanya karena sering melihatnya
Efisiensi sebagai Norma
Digitalisasi juga membawa logika efisiensi dan optimasi ke dalam kehidupan sehari-hari.
Waktu diukur melalui produktivitas. Kinerja dinilai melalui indikator. Perhatian diperebutkan melalui engagement. Bahkan identitas dapat dibangun melalui performa yang terus-menerus ditampilkan.
Persoalannya, tidak semua hal penting dapat berlangsung secara cepat
Pendidikan membutuhkan proses. Kebijaksanaan membutuhkan pengalaman. Hubungan manusia membutuhkan waktu. Demokrasi membutuhkan deliberasi. Sementara sistem digital cenderung menuntut kecepatan, responsivitas, dan hasil yang segera terlihat
Di sinilah muncul paradoks zaman digital: kemampuan teknis manusia berkembang sangat cepat, tetapi belum tentu diikuti perkembangan kebijaksanaan etis, ekologis, dan eksistensial
Manusia semakin mampu melakukan banyak hal, tetapi belum tentu semakin mampu menentukan apa yang seharusnya dilakukan.
Teknologi dan Kekuasaan
Teknologi juga merupakan persoalan kekuasaan
Yanis Varoufakis menggunakan istilah technofeudalism untuk menjelaskan perubahan struktur ekonomi ketika penguasaan terhadap infrastruktur digital, platform, dan jaringan menjadi sumber kekuatan ekonomi baru. Sementara Byung-Chul Han melalui konsep psychopolitics menunjukkan bagaimana kekuasaan modern bekerja melalui perhatian, keinginan, performa, dan pengelolaan diri.
Keduanya memperlihatkan bahwa kekuasaan digital bekerja pada dua sisi.
Pertama, sisi struktural: penguasaan terhadap platform, jaringan, data, infrastruktur, dan sistem komputasi.
Kedua, sisi subjektif: kemampuan memengaruhi cara manusia berpikir, merasa, memilih, dan menilai dirinya sendiri.
Dalam konteks ini, Command Capital dapat dipahami sebagai kekuasaan yang tidak selalu memerintah secara langsung, tetapi mengendalikan kondisi tempat pilihan dibuat.
Manusia tetap memiliki pilihan. Namun, pilihan itu berlangsung dalam ruang yang telah dirancang oleh sistem.
Algoritma menentukan apa yang lebih mudah ditemukan. Platform menentukan aturan partisipasi. Sistem rekomendasi menentukan apa yang lebih sering muncul. Model bisnis menentukan insentif.
Karena itu, kebebasan tidak selalu hilang ketika manusia dilarang memilih. Kebebasan juga dapat berubah ketika kondisi yang membentuk pilihan dikendalikan.
Seeming dan Being
Persoalan tersebut membawa kita pada inti gagasan buku ini: perbedaan antara seeming dan being
Seeming adalah bagaimana sesuatu tampak, hadir, dan dipersepsikan. Being adalah keberadaan sesuatu sebagaimana adanya.
Di ruang digital, keduanya semakin mudah tercampur
Sesuatu dapat terlihat penting karena viral, padahal belum tentu substantif. Sebaliknya, sesuatu yang penting dapat tidak terlihat karena tidak sesuai dengan logika distribusi perhatian.
Karena itu:
Popularitas tidak sama dengan kebenaran.
Visibilitas tidak sama dengan keberadaan.
Familiaritas tidak sama dengan pengetahuan.
Keterukuran tidak selalu sama dengan nilai.
Krisis realitas di era digital bukan berarti realitas telah hilang. Krisisnya terletak pada semakin sulitnya manusia membedakan antara apa yang tampak dan apa yang benar-benar ada.
Tantangan Manusia di Era Digital
Teknologi telah mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, memperoleh informasi, dan mengambil keputusan. Namun, persoalan terbesarnya bukan sekadar apakah teknologi semakin canggih.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menentukan arah kecanggihan tersebut?
Jika teknologi hanya memperbesar kemampuan manusia tanpa memperkuat kebijaksanaan, teknologi dapat berubah dari alat pembebasan menjadi mekanisme pembentukan perilaku.
Karena itu, tugas manusia bukan menolak teknologi, melainkan memahami struktur kekuasaan, logika ekonomi, dan mekanisme psikologis yang bekerja di baliknya.
Manusia harus tetap mampu membedakan antara apa yang terlihat dan apa yang nyata; antara informasi dan pengetahuan; antara pilihan dan kebebasan; serta antara kemampuan untuk melakukan sesuatu dan kebijaksanaan untuk menentukan apakah sesuatu itu layak dilakukan.
Di sinilah persoalan Seeming dan Being menjadi relevan
Krisis utama era digital bukan kekurangan informasi, melainkan ancaman hilangnya kemampuan manusia untuk menentukan apa yang benar-benar layak dipercaya, dihargai, dan dijalani.

















