banner 728x250
Berita  

Andri Manik dan Sony Novian, narasumber dalam Kuliah Tamu di Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

gatraindonesia.com – Puluhan mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menghadiri acara Kuliah Tamu bertajuk Interpreting: Practitioner Series — Elevate Your Skills with Insights and Training from Professional Interpreters pada Kamis, 24 Juni 2026. Acara yang berlangsung di Gedung Dewi Sartika (GDS) kampus UNJ tersebut menghadirkan dua narasumber dari kalangan praktisi yang tampil dengan cara yang jujur, provokatif, menghibur, dan tidak berusaha menenangkan siapapun.

Sony Novian: Industri Ini Tidak Mati, Tapi Anda Bisa

Sony Novian tampil pertama. Sosok yang menjabat sebagai Co-founder Katagonia Language Solutions, Ketua Umum IKASA, sekaligus Ketua Umum DPC HIPPI Jakarta Barat ini membuka sesinya dengan satu kalimat yang langsung membekukan ruangan:

“AI tidak menggantikan profesi penerjemah. AI menggantikan penerjemah yang menolak berkembang.”

Bagi Sony, masalah terbesar industri jasa bahasa Indonesia bukan pada AI-nya, melainkan pada cara berpikir para pelakunya. Ia menyebutnya Operator Mindset Trap, terjebak menghitung harga per kata, takut menaikkan tarif, menunggu order dari marketplace, dan memandang pekerjaan semata sebagai tukar waktu dengan uang.

“Selama Anda berpikir seperti itu, kompetitor Anda bukan sesama penerjemah. Kompetitor Anda adalah Google Translate versi gratis. Dan itu pertarungan yang tidak akan pernah Anda menangkan,” katanya.

Lalu ia menampilkan studi kasus sederhana antara dua penerjemah, kemampuan bahasa identik, tapi nasib berbeda.

Penerjemah A: “Saya menerjemahkan kata-kata.” Tarif: Rp. 75 per kata. Beroperasi di marketplace umum. Hasilnya, bersaing dengan AI gratis.

Penerjemah B: “Saya memitigasi risiko komunikasi.” Tarif Rp. 350 per kata. Menyasar klien korporat dan hukum langsung. Hasilnya, menjadi mitra strategis yang tidak tergantikan.

“Kemampuan bahasa mereka sama. Yang berbeda adalah positioning-nya. Penerjemah B menjual ketenangan pikiran. Dan untuk itu, tidak ada AI yang bisa menggantikannya,” kata Sony.

Pesannya kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih besar yaitu pergeseran cara menjual. Klien hukum, menurut Sony, tidak membeli terjemahan, mereka membeli perlindungan dari celah kontrak. Klien medis tidak membeli dokumen bilingual, mereka membeli keselamatan pasien. Klien pemasaran tidak membeli kata-kata, mereka membeli reputasi merek yang tidak ternoda oleh kesalahan kultural.

“Jika Anda menjual kata-kata, Anda berkompetisi dengan AI gratis. Jika Anda menjual kepastian, Anda tidak punya kompetitor,” tegasnya, disambut tepuk tangan panjang.

Sony juga menutup sesinya dengan pandangan tentang kekuatan kolektif. Ia menyebut ekosistem asosiasi seperti IKASA sebagai infrastruktur yang tidak bisa digantikan oleh kehebatan individual. “Proyek bernilai tinggi mengalir lewat saluran kepercayaan, bukan lewat surel dingin. Kita tidak bisa berburu sendirian. Ini era pack hunting, bukan lone wolf.”

 

Andri Manik: Wirausaha Jasa Itu Indah, juga Brutal

Narasumber kedua, Andri Manik, naik podium dengan gaya yang lugas, tanpa basa-basi, dan sesekali memancing gelak tawa getir yang terasa sangat akrab bagi siapa pun yang pernah mencoba berbisnis.

Wirausahawan muda, yang juga menjabat sebagai Anggota Komite Tetap Dialog dan Sosialisasi Kebijakan KADIN Jakarta sekaligus Bendahara Umum DPC HIPPI Jakarta Barat ini, datang dengan latar belakang beragam, berlatar pendidikan akuntansi di Indonesia, Consultancy and Entrepreneurship di Rotterdam, lalu Hubungan Internasional kembali di Jakarta. Jalur panjang yang memberinya perspektif tentang bisnis dari sudut yang tidak tunggal.

Ia membagi dunia wirausaha jasa ke dalam dua kata: suka dan duka.

Sukanya: penghasilan yang bisa sangat tinggi, jaringan bisnis yang terus melebar, ruang pengembangan yang hampir tidak ada batasnya, fleksibilitas waktu yang tidak dimiliki pekerja kantoran, dan kepuasan ketika klien puas dengan hasil kerja Anda.

Dukanya: modal awal yang tidak sedikit, klien yang karakternya bisa sangat sulit diduga, persaingan yang terus mengeras, tanggung jawab atas kualitas yang sepenuhnya ada di pundak Anda, dan kondisi ekonomi yang bisa berubah tiba-tiba tanpa permisi.

“Wirausaha jasa bukan untuk semua orang. Saya bilang ini bukan untuk menjatuhkan semangat. Tapi kalau Anda masuk dengan ekspektasi bahwa ini akan mudah, siap-siap kecewa,” kata Andri datar — tapi tepat sasaran.

Momen krusial datang ketika Andri menyinggung sesuatu yang jarang dibicarakan dengan cara seperti itu di forum akademis: wacana mental health di dunia kerja profesional.

Menurutnya, wirausahawan jasa yang berhasil harus siap menempatkan kepuasan klien di atas kenyamanan pribadi. Dan di sinilah ia berbeda pandangan dengan arus utama narasi mental health yang kini sangat populer.

“Memiliki skill sosial yang baik seringkali berarti mengorbankan kenyamanan diri sendiri demi klien. Belakangan ini, narasi mental health cenderung hanya soal kenyamanan diri sendiri. Bagi saya, itu overrated, dan bisa menjadi hambatan aktualisasi diri,” katanya langsung.

Andri mengklarifikasi bahwa ia tidak menolak konsep kesehatan mental secara keseluruhan. “Bagi saya, ruang mental health yang sesungguhnya bukan safety net, tapi ruang untuk bertumbuh lebih, bahkan dengan memaksakan diri tampil sampai maksimal. Bukan ruang untuk berhenti.” tegas Andri.

Ketika acara ditutup siang itu, yang tersisa bukan sekadar catatan di buku mahasiswa. Yang tersisa adalah pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu sesi: bagaimana saya menemukan niche yang tepat? Kapan waktu yang benar untuk berani menaikkan tarif? Bagaimana membangun kepercayaan klien dari nol? Di mana batas antara dedikasi profesional dan pengorbanan yang tidak sehat?

Sony Novian dan Andri Manik memberikan sesuatu yang semakin relevan hari ini, kerangka berpikir yang jujur tentang medan yang sesungguhnya akan dihadapi para mahasiswa ketika mereka terjun ke dunia wirausaha.

“Industri ini tidak sedang mati. Ia sedang berganti kulit,” kata Sony di slide penutupnya. “Masa depan milik mereka yang mampu memberikan kejernihan di tengah kebisingan yang terotomasi.”

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *