gatraindonesia.com – Arsitektur tradisional masyarakat Baduy Luar tidak hanya berbicara tentang bentuk bangunan, tetapi juga merepresentasikan filosofi hidup, tata nilai, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Kekayaan makna tersebut dihadirkan melalui Pameran Sketsa “Arsir Garis: Dokumentasi Arsitektur Vernakular Kadu Ketug Baduy Luar, Banten” yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten melalui Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan di City Gallery Tangerang Selatan, Jumat (24/7/2026).
Pameran ini merupakan hasil riset lapangan yang dilakukan di Kampung Kadu Ketug, Baduy Luar, Kabupaten Lebak, Banten. Hasil observasi diterjemahkan menjadi puluhan karya sketsa sebagai dokumentasi visual sekaligus media edukasi untuk memperkenalkan kekayaan arsitektur vernakular kepada masyarakat luas.
Kurator pameran, Himi Fabeta, mengatakan pameran ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan arsitektur vernakular Baduy Luar melalui pendekatan sketsa dan kajian keilmuan arsitektur. Menurutnya, dokumentasi tersebut memiliki nilai strategis karena selama ini pengetahuan mengenai arsitektur Baduy lebih banyak diwariskan melalui tradisi lisan.
“Kegiatan ini menjadi jembatan penting untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Nusantara kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Drawing dipilih karena kemampuannya merekam detail sekaligus menghadirkan goresan perasaan. Itulah kekuatan dokumentasi arsitektur vernakular,” ujar Himi.
Inisiator pameran sekaligus dosen Program Studi Arsitektur Universitas Pradita, Marchelia Gupita Sari, S.T., M.Arch., menjelaskan pameran ini dirancang bukan hanya sebagai ruang apresiasi seni, melainkan juga sebagai media pembelajaran untuk memahami filosofi kehidupan masyarakat Baduy melalui arsitektur yang mereka bangun dan lestarikan secara turun-temurun.
“Arsitektur Baduy bukan sekadar rumah atau bangunan. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan, tata ruang, hubungan sosial, hingga penghormatan terhadap alam. Melalui pameran ini kami ingin menghadirkan pengalaman yang membuat masyarakat tidak hanya melihat bentuk fisiknya, tetapi juga memahami nilai yang melatarbelakanginya,” kata Marchelia.
Ia menjelaskan, proses dokumentasi dilakukan dengan tinggal bersama masyarakat Baduy selama tiga hari dua malam agar tim peneliti mampu memahami kehidupan masyarakat secara utuh sebelum menerjemahkannya ke dalam karya sketsa.
“Sketsa menjadi cara kami membaca ruang dan merekam pengalaman. Setiap garis lahir dari proses pengamatan, dialog, dan interaksi dengan masyarakat. Karena itu, karya yang ditampilkan bukan sekadar ilustrasi, melainkan hasil interpretasi dari sebuah perjalanan riset kebudayaan,” tambahnya.
Pameran yang didukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan ini juga menghadirkan presentasi hasil penelitian, pertunjukan Happening Art, diskusi akademik, serta sesi berbagi pengalaman bersama masyarakat Baduy.
Arsitek Adriyan Kusuma, S.T., M.Arch., IAI., menilai arsitektur vernakular Baduy menyimpan banyak pelajaran mengenai pembangunan berkelanjutan.
“Kearifan lokal dalam arsitektur Baduy menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep modern. Masyarakat Baduy telah mempraktikkannya sejak lama melalui pemanfaatan material lokal, penyesuaian terhadap kondisi alam, serta pola pembangunan yang menghormati lingkungan. Nilai-nilai tersebut layak menjadi inspirasi bagi praktik arsitektur masa depan,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, Ketua Pemuda Desa Kadu Ketug, Kang Jamal, turut berbagi pandangan mengenai makna rumah, ruang hidup, serta nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun.
“Rumah bagi masyarakat Baduy bukan hanya tempat berteduh, tetapi bagian dari amanah leluhur yang harus dijaga. Cara kami membangun selalu mengikuti aturan adat dan menjaga keseimbangan dengan alam. Itu yang terus kami pertahankan hingga sekarang,” tutur Kang Jamal.
Melalui pameran “Arsir Garis”, Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Banten berharap hasil penelitian kebudayaan dapat menjangkau masyarakat lebih luas sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia.
Pameran ini juga menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, praktisi, komunitas, dan masyarakat adat agar nilai-nilai kearifan lokal Baduy Luar terus hidup, dipahami, serta diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.

















