banner 728x250
Berita  

Kami Datang Membawa Karangan Bunga, Pulang Membawa Harapan : Herwil J Harefa

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

gatraindonesia.com – Ketua Umum Asosiasi Pangan Gizi Indonesia Wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (APGI 3T), Herwil Junaidi Harefa, menyebut aksi damai yang digelar para investor dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kantor Badan Gizi Nasional (BGN), Kamis (23/7), berangkat dari niat untuk bersilaturahmi sekaligus mengucapkan selamat kepada Sudaryono yang baru dilantik sebagai Kepala BGN.

 

Menurut Herwil, rombongan datang dengan membawa karangan bunga dan berharap dapat berdialog secara langsung mengenai berbagai persoalan yang dihadapi para mitra SPPG di wilayah terpencil.

 

“Kami datang sebagai tamu untuk mengucapkan selamat kepada Kepala BGN yang baru. Kami meminta izin untuk bertemu secara baik-baik, tetapi tidak mendapat akses masuk. Karena komunikasi tidak berjalan, akhirnya sempat terjadi ketegangan,” kata Herwil.

 

Rombongan yang tiba sejak pukul 09.00 WIB itu baru diterima sekitar pukul 17.00 WIB setelah menunggu hampir delapan jam di depan kantor BGN.

 

Meski sempat diwarnai ketegangan dengan petugas keamanan, Herwil menilai pertemuan dengan Sudaryono menjadi titik awal yang positif.

 

Ia mengatakan Sudaryono menunjukkan pemahaman terhadap persoalan yang dihadapi para investor SPPG Terpencil, sekaligus menyampaikan komitmen bahwa mitra tidak boleh dirugikan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

“Beliau cukup memahami keluh kesah kami. Yang membuat kami optimistis adalah komitmennya bahwa mitra tidak boleh dirugikan,” ujarnya.

 

Meski demikian, Herwil menegaskan pihaknya akan menunggu realisasi dari komitmen tersebut. Menurutnya, Sudaryono baru menjalankan hari kedua masa jabatannya sehingga masih membutuhkan waktu untuk mempelajari berbagai persoalan yang ada.

 

Herwil juga mengungkapkan perjuangan para investor tidak berhenti pada pembangunan dapur SPPG. Selama berbulan-bulan memperjuangkan kepastian program di Jakarta, para mitra harus menanggung sendiri biaya transportasi, penginapan, dan kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Di sisi lain, sebagian besar investasi pembangunan dapur berasal dari pinjaman bank, pembiayaan dari rekan usaha, toko material, hingga pinjaman pribadi. Akibat belum beroperasinya sejumlah dapur, beban bunga pinjaman terus bertambah.

 

“Kami datang ke Jakarta dengan biaya sendiri. Sementara pinjaman untuk membangun dapur terus berjalan dan bunganya semakin besar. Itu menjadi beban yang harus kami tanggung,” katanya.

 

Meski menghadapi tekanan finansial, Herwil menegaskan perjuangan APGI 3T bukan semata-mata memperjuangkan kepentingan investor, melainkan memastikan Program Makan Bergizi Gratis dapat menjangkau masyarakat di wilayah yang paling membutuhkan.

 

Menurutnya, sasaran utama MBG Terpencil adalah anak-anak di daerah dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi, di mana sebagian besar orang tua bekerja sebagai petani, pekebun, nelayan, hingga penyadap karet dengan penghasilan terbatas.

 

Ia menilai keberlanjutan program tersebut tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa melalui keterlibatan petani, peternak, pelaku perikanan, dan UMKM lokal sebagai pemasok kebutuhan dapur SPPG.

 

Menutup pernyataannya, Herwil menyampaikan harapan kepada Sudaryono agar mampu memperkuat tata kelola BGN dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi para mitra.

 

“Kami mendoakan Bapak Sudaryono diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin Badan Gizi Nasional. Amanah yang beliau emban sangat besar. Kami berharap berbagai persoalan yang selama ini terjadi dapat diselesaikan sehingga Program Makan Bergizi Gratis, khususnya di wilayah terpencil, dapat berjalan sesuai cita-cita Presiden dan benar-benar memberi manfaat bagi anak-anak Indonesia,” tutup Herwil.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *