JAKARTA — PT J-Resources kembali menegaskan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat sekitar area tambang melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Pada ajang pameran Minerba CONVEX 2026, J-Resources memamerkan keberhasilan program pembinaan petani kakao di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, yang tahun ini berhasil meraih penghargaan apresiasi PPM dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Presiden Direktur J-Resources, Anang Rizkani Noor, menyampaikan bahwa program yang diusung bertema “Kakao Membawa Perubahan” ini berfokus pada empat pilar utama:
1.*Pemberdayaan Masyarakat:* Melibatkan langsung komunitas lokal dalam mengelola potensi pertanian.
2.*Pertanian Inklusif:* Merangkul kelompok disabilitas untuk berpartisipasi aktif, seperti penerapan teknik sambung pucuk tanaman kakao secara profesional.
3.*Pertanian Berkelanjutan:* Mengaplikasikan penggunaan pupuk organik guna menjaga kelestarian lingkungan tanah dan tanaman.
4.*Regenerasi Petani Muda:* Mendorong ketertarikan generasi muda terhadap pertanian kakao, mengingat data menunjukkan bahwa proporsi petani muda di Sulawesi Utara saat ini baru mencapai 2%.
”Kami memamerkan program ini karena fokus kami adalah penciptaan nilai sosial. Melalui pendekatan inkusif dan keberlanjutan, kami ingin meningkatkan ketertarikan generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian kakao,” ujar Anang Rizkani Noor di sela-sela pameran Minerba CONVEX 2026.
Dipelopori sejak tahun 2019, program pembinaan ini telah berkembang pesat. Saat ini, J-Resources membina 32 kelompok tani dengan total 320 anggota yang mengelola sekitar 100 hektar lahan binaan. Selain itu, terdapat sekitar 200 hektar lahan swadaya masyarakat yang turut didampingi, sehingga total area perkebunan mencapai sekitar 300 hektar.
Dengan periode panen rutin dua minggu sekali (dua kali dalam sebulan), dampak ekonomi program ini dirasakan secara signifikan oleh para petani.
Beberapa keluarga petani tercatat mampu meraup pendapatan bersih hingga Rp30 juta sampai Rp45 juta per bulan. Peningkatan kesejahteraan ini memungkinkan para petani membiayai pendidikan anak hingga tingkat perguruan tinggi bahkan menunaikan ibadah umrah.
Anang menegaskan bahwa target akhir dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) ini adalah kemandirian masyarakat binaan. Secara bertahap, tingkat pendampingan akan dikurangi hingga masyarakat siap mengelola usahanya secara mandiri.
”Indikator kesuksesan dari program pemberdayaan kami bukan saat mereka terus bergantung pada perusahaan, melainkan justru ketika mereka sudah bisa mandiri dan kami dapat melepasnya,” tutup Anang.

















