JAKARTA, BRIN – Dalam rangka akselerasi pembangunan nasional dan pengentasan kemiskinan yang berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset pada Kamis (16/7/2026). Salah satu profesor riset yang dikukuhkan adalah Dr. Ir. Jhonny Walker Situmorang M.S., seorang pakar di bidang Ekonomi Pembangunan dan Perkoperasian.
Dalam wawancara eksklusif bersama awak media usai prosesi pengukuhan, Prof. Jhonny Walker menyampaikan pandangan kritisnya mengenai potret perekonomian nasional. Beliau menekankan bahwa salah satu alasan mendasar mengapa Indonesia masih menghadapi tantangan kemiskinan yang persisten dan ketimpangan ekonomi yang tinggi adalah belum optimalnya peran koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional.
Jika kita melihat negara-negara maju seperti Amerika Serikat, kawasan Eropa, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, bahkan Singapura, fondasi ekonomi mereka ditopang secara kokoh oleh masyarakat melalui wadah koperasi. Di beberapa negara tersebut, tingkat partisipasi masyarakat dalam koperasi bahkan mencapai lebih dari 100 persen karena satu orang bisa mengikuti lebih dari satu koperasi. Sementara di Indonesia, angka partisipasi kita masih sangat rendah, yaitu baru berkisar di angka 10 persen,” ujar Prof. Jhonny Walker.
Menurutnya, rendahnya tingkat partisipasi ini disebabkan oleh hilangnya kedaulatan ekonomi di tingkat rakyat. Ketika bergerak secara individu, masyarakat kecil kesulitan memiliki daya tawar dan kekuatan ekonomi. Oleh karena itu, sinergi dalam bentuk wadah koperasi menjadi mutlak diperlukan agar masyarakat dapat berdaulat secara ekonomi.
Lebih lanjut, Prof. Jhonny mengidentifikasi dua faktor utama yang menyebabkan lemahnya kelembagaan koperasi di tanah air saat ini. Pertama, prinsip-prinsip dasar perkoperasian belum dijalankan secara murni dan konsisten. Kedua, aspek tata kelola (governance) kelembagaan yang masih memerlukan pembenahan yang signifikan. Sebagai solusi strategis, ia menegaskan perlunya penguatan pada aspek kewirausahaan koperasi (cooperative entrepreneurship).
Tantangan ini menjadi kian krusial mengingat Indonesia memiliki target besar menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Untuk bertransformasi menjadi negara maju, Indonesia ditargetkan mencapai pendapatan per kapita sekitar USD 23.000 dengan menekan angka rentan miskin hingga menyentuh 1,2 persen.
”Bagaimana kita bisa mencapai target besar Indonesia Emas 2045 tersebut jika rakyat tidak terlibat aktif? Bergerak sendiri-sendiri tidak akan bisa. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat, dan wadahnya adalah koperasi. Kuncinya adalah memperkuat kewirausahaan koperasi agar kelembagaan ekonomi rakyat ini memiliki daya saing yang hebat dan mampu menyokong kesejahteraan secara merata,” pungkasnya di akhir wawancara.

















